Rabu, 19 Oktober 2011

Cemburu Terbit di Ufuk Cinta

seringkali, yang paling mencintai kita
tak menjadi yang paling kita cintai

dan mungkin pernah
yang paling kita cintai
membuat hati kita bagai dirajam duri


Pernahkah kita merasakan simalakama ini; bahwa orang yang sangat kita sayangi berdiri di hadapan kita untuk melindungi musuh yang paling kita benci? Mungkin langka-langka. Tapi Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, lelaki penuh cinta itu, pernah mengalaminya.

Hari itu adalah Fathul Makkah. Di luar pengampunan umum yang beliau berikan dalam pidatonya yang begitu lembut namun gagah di depan Ka’bah, tetap ada daftar nama para perusak keji yang harus dibasmi. Dan dalam daftar itu ada nama ‘Abdullah ibn Abi Sarh.

Lelaki ini mulanya berdiri di barisan terdepan memerangi risalah dan menyakiti Rasulullah. Sampai suatu saat, dia datang ke Madinah untuk masuk Islam. Bahkan dia sempat beberapa waktu menuliskan wahyu yang turun kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi dia lalu murtad, kembali ke Makkah, dan mengobarkan kembali persengitannya. Lelaki ini, kemurtadannya saja sudah cukup menjadi alasan bagi kehalalan darahnya. Maka ‘Abdullah ibn Abi Sarh masuk daftar teratas yang harus dieksekusi.

Tetapi alangkah kebetulan bahwa ‘Abdullah adalah saudara sesusuan ‘Utsman ibn ‘Affan. Maka bergegas berselipat dia menemui ‘Utsman. Dimohonnya sungguh agar ‘Utsman memintakan perlindungan dan ampunan baginya pada Rasulullah. Maka ‘Utsman yang lembut penuh kasih itu pun menyembunyikannya. Ketika hiruk-pikuk takluknya Makkah sudah berkurang dan keadaan mulai tenang, ‘Utsman menggandeng tangan ‘Abdullah ibn Abi Sarh dan membawanya ke hadapan Rasulullah.

Dari sejak ‘Utsman berbicara hingga jeda waktu yang sangat lama, Rasulullah diam saja. Ekspresi wajah beliau datar, sama sekali tak berubah. Lama sekali. Inilah ‘Utsman di hadapan beliau. Manusia yang malaikat pun malu kepadanya. Pemuda lembut hati yang dua kali beliau nikahkan dengan dua puterinya. Seorang yang gigih menyerahkan harta dan jiwanya untuk membela Islam. Seorang terkasih yang untuknyalah Rasulullah mengulurkan lengannya yang suci dalam Bai’atur Ridhwan demi mendengar orang-orang Quraisy membunuhnya. Dan kini dia berdiri di hadapan beliau. ‘Utsman datang memintakan ampun bagi lelaki keji dan murtad yang memusuhi Allah.

Iman ‘Utsman, ketulusannya membela agama Allah, dan cintanya kepada Sang Nabi tak mungkin dipertanyakan. Tapi ikatan persusuan itu juga membekas dalam di hatinya. Pasti bukan hanya Sang Nabi yang hatinya bergolak, dada ‘Utsman pun tentu bergemuruh. Pantaskah tindakannya? Apakah pengorbanannya untuk Islam selama ini membuatnya dibenarkan meminta sesuatu yang akan melukai hati dan harga diri Rasulullah? Tapi dia telah sampai di sini. Dia telah berjanji. Dan menyerahkan ‘Abdullah untuk dipenggal di tempat ini tentulah menjadikannya pengkhianat sejati dalam sisi yang lain.

Lama sekali Sang Nabi berdiam diri.. Hingga hening menyelimuti majelis itu sekian waktu lagi. ‘Utsman dengan wajah yang penuh harap masih menanti. Tapi senyap makin menghinggap. Karena sunyi telah begitu lama, para shahabat menyangka dalam hati bahwa Nabi telah memaafkan sang terhukum. Tapi mereka juga diam. Tak kuasa berkata, tak berani bertanya. Senyampang Rasulullah memperhatikan para shahabat yang juga ikut terdiam terbawa sepi, maka akhirnya beliau bersabda lirih, ”..Ya..”

Wajah ‘Utsman berseri sejenak. lalu muram. Lalu datar. Segera digandengnya saudara sesusuannya itu pergi menjauh. Begitu ‘Utsman berlalu, Rasulullah bersabda, ”Andainya setadi ada di antara kalian yang maju dan memenggalnya. Sesungguhnya aku telah berdiam lama agar ada di antara kalian yang maju dan memukul tengkuknya..!”

”Aduhai.. Mengapa engkau tidak memberi isyarat kepada kami ya Rasulallah?!”, gerun seorang Anshar.

”Sesungguhnya seorang Nabi tidaklah berkhianat meski hanya dengan isyarat!”

Subhanallaah..Alangkah cemburunya Sang Nabi. Alangkah bergejolak hatinya melihat yang dilakukan ‘Utsman. Alangkah ingin beliau akan terbunuhnya musuh Allah, si murtad ‘Abdullah ibn Abi Sarh. Tetapi alangkah kukuhnya prinsip yang beliau pegang. Kecemburuan tak diijinkan menjadikan seseorang menjadi pengkhianat. Maka Sang Nabi tak berkhianat. ‘Utsman juga tak berkhianat pada ‘Abdullah yang percaya padanya. ‘Utsman juga tak sekejap pun punya niat mengkhianati kekasih junjungannya. Dari mereka kita belajar, cemburu, bukan untuk cemburu itu sendiri.

taken from; Jalan Cinta Para Pejuang/Gairah/Cemburu Terbit di Ufuk Cinta/…

by Salim A. Fillah

Sumber : http://salim-a-fillah.blog.friendster.com/2008/08/cemburu-terbit-di-ufuk-cinta/



Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Sedekah Yang Salah Alamat


Suatu ketika, Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau berkata kepada mereka,

“Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!’ Dan benar, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

“Akhirnya, kabar tersebut sampai juga kepada pria itu. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

“Maka, pria itu kemudian mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah orang kaya. Sehingga, kejadian itu lagi-lagi menjadi perbincangan khalayak ramai, lalu sampai juga kepada pria yang bersedekah itu.

“Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam,’Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

Maka, dia kemudian, dengan cermat, mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri. Tak lama berselang, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu sampai kepada pria yang bersedekah itu.

Mendengar kabar demikian, pria itu pun mengeluh, ‘Ya Allah! Segala puji ha¬nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!’

Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu.”

(Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Muslim dan Abu Hurairah dalam Teladan indah Rasullulah dalam ibadah, Ahmad Rofi ‘Usmani)

Penolong Misterius

Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa.

"Allahu Akbar!" suara lelaki itu mengawali shalatnya.

Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do'a. Seusai sholat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah.

Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya.

"Rupanya malam sudah larut...,"bisiknya.

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkannya.

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah.

"Alhamdulillah..., harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,"kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya.

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu.

"Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!" seru orang yang mendapat jatah makanan.

"Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakannya untuk kita!" sambut yang lainnya.

Begitu pula malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan.

"Sungguh! Kita terbebas darikesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!" kata orang miskin ketika pagi tiba.

"Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong...," timpal seorang temannya.

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntungan.

Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya?

Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparn. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya!

"Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak...," orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. "Ayo cepat! Mana uangnya?!" gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.

"Aku...aku...," Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok. Membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali.

"Siapa kau?!" tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu.

"Ampun, Tuan....jangan siksa saya...saya hanya seorang budak miskin...,"katanya ketakutan.

"Kenapa kau merampokku?" Tanya Ali kemudian.

"Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan," sahutnya dengan wajah pucat.

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus.

"Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat..."

"Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?" kata Ali.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub.

"Sekarang pulanglah!" kata Ali.

Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis.

"Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertobat kepada Allah...saya berjanji tidak akan mengulanginya," kata orang itu penuh sesal.

Ali tersenyum dan mengangguk.

"Hai, orang yang tobat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah maha pengampun." Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertobat atas kesalahannya.

"Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini...," kata Ali sebelum orang itu pergi." Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku," sambung Ali.

Dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.

Suatu ketika Ali Zainal Abidin wafat. Orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang.

Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya.

"Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?"

"Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah," kata orang yang bertobat itu dengan rasa haru.

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan.

Orang yang bertobat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo'a," Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw.