Jumat, 28 Agustus 2009

MEMBENTUK PRIBADI ISLAM

MEMBENTUK PRIBADI ISLAM
(At-Takwin Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. 3/Ali Imron 110)

Kalau kita cermati dengan seksama Firman Alloh di atas, kita dikatakan umat terbaik yang dilahirkan sebagai manusia bila kita mempunyai tiga unsur pembentuk kebaikan yang harus melekat pada diri kita dan mempu mengaplikasikannya kedalam kehidupan, yaitu :

1. Mengajak pada yang ma’ruf
2. Mencegah dari yang munkar
3. Beriman kepada Alloh

Tidak berlebihan bila tiga hal ini dikatakan sebagai tonggak peradaban manusia, sebuah fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa tiga hal ini merupakan fondasi dan pilar dalam membangun kehidupan manusia, yang mampu menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Tiga hal ini pula yang memberikan inspirasi terbentuknya lembaga-lembaga yang mengatur hubungan sesama manusia, hubungan lokal, regional, nasional maupun bilateral & multilateral untuk mencapai tujuan universal. Kalau tiga hal ini terpisah antara satu dengan yang lainnya, maka kemurnian tujuan universal itu pasti akan tercederai dan tidak akan terwujud, yang terjadi justru sebaliknya yakni tujuan dengan kepentingan pribadi, kelompok/golongan tertentu, sehingga mempengaruhi proses terbentuknya menjadi (jamaah/ individu) umat terbaik sebagaimana disebutkan dalam Firman Alloh di atas.

Untuk menuju kebaikan, individu merupakan komponen terkecil yang memegang peranan penting dalam menentukan perjalanan menuju kebaikan bersama, karenanya pembentukan pribadi muslim (takwin asy-syakhshiyah al-islamiyah) yang baik, merupakan sebuah keniscayaan.

Oleh sebab itu yang menjadi titik tolak dalam gerakan da’wah dimulai dari individu, kemudian keluarga dan selanjutnya adalah masyarakat, dengan kata lain marilah kita mulai perbaikan ini dari diri sendiri sebagai sasaran dan pelaku da’wah, kemudian keluarga kita, selanjutnya kepada saudara, tetangga, teman dekat “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. 26/Asy-Syu;araa 214) dan diteruskan kepada semua lapisan masyarakat walau dengan cara terang-terangan atau diam-diam. “Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam” (QS. 71/Nuh 8-9).

Kalau kita semua mampu melakukan gerakan pembentukan pribadi islam (takwin asy-syakhshiyah al-islamiyah) ini dengan cepat dan masiv namun tetap dengan cara bertahap (tadarruj), insya’Alloh da’wah ini akan cepat pula menyebar di permukaan bumi ini, sehingga mampu menepis berbagai isu negatif yang sengaja disebarkan oleh musuh-musuh islam dan orang-orang yang membencinya, apalagi kalau kita semua mampu mengajak satu demi satu dari mereka untuk bergabung ke dalam gerakan da’wah islamiyah, pasti akan mampu memberikan efek positif yang luar biasa terhadap penetrasi dan akselerasi gerakan da’wah itu sendiri. Disamping itu, dia akan mampu menjelaskan dan meluruskan opini serta persepsi publik yang salah terhadap Islam.

Bukankan dalam da’wah kita mengenal program yang disebut “al-akh al wahid” yaitu setiap anggota jama’ah untuk berusaha semaksimal mungkin minimal bisa mengajak satu orang untuk bergabung dalam jama’an dak’wah ini..?. Bukankan mencari pengikut dengan metoda seperti ini merupakan cara yang bijaksana dan selaras dengan tujuan da’wah..?. Untuk itulah, jangan sekali-kali kita menunda-nunda ketika kita mempunyai waktu dan kesempatan untuk melakukan pendekatan da’wah melalui pembentukan (takwiniyah) pribadi islam (asy-syakhshiyah al-islamiyah) walaupun hanya kepada satu orang saja.

Yang perlu diperhatikan oleh seorang da’i, yakni harus menyadari betul bahwa seorang da’i bukan seorang alim/ulama atau ahli fiqh/fuqoha, namun sebuah pribadi yang mempunyai tanggang jawab untuk menyampaikan risalah islam sebatas yang telah diketahuinya untuk membawa insan dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Alloh SWT. Pada masa pembentukan (takwiniyah) seorang da’i hendaknya mampu memberikan contah yang baik (uswah hasanah) untuk dapat menampilkan dihadapan masyarakat gambaran yang nyata tentang peradaban islam yang di dasari dengan mengajak pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, serta beriman pada Alloh, dengan pemahaman universal dan saling bertoleransi dalam masalah khilafiyah dan furu’ yang akhirnya mampu mengaktualisasikan keselarasan kehidupan dalam pribadinya, dalam rumah tangganya serta mampu mengimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasululloh saw dalam Khilawah Madinah..

Memberikan contoh yang baik memang bukan perkara yang mudah, bahkan inilah salah satu tugas berat bagi seorang da’i, tidak sedikit orang yang mampu memukau banyak orang dengan untaian kata-katanya, namun tidak selaras antara ucapan dan perbuatannya, sehingga membuat orang lain tidak respek terhadapnya, banyak orang yang mampu menguraikan dengan detail tentang hidup sederhana namun kehidupannya sangat jauh dari kesederhanaan, banyak sekali orang yang mampu menjabarkan sistem tata nilai kehidupan dan bermasyarakat dalam islam, namun dalam kesehariannya mereka tidak mampu berbuat dan bermu’amalah dengan baik walaupun dengan tetangga dekatnya, bahkan dengan saudaranya, apalagi dengan jama’ah da’wah yang secara geografis jauh darinya. Itulah manusia walaupun diciptakan dalam bentuk yang terbaik diantara makluk-Nya, namun tetap tidak sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Alloh SWT. Sekali lagi mari kita memulai dari diri sendiri untuk membentuk pribadi islam (takwin asy-syakhshiyah al-islamiyah) yang kafah, sehingga mampu mempengaruhi dan mewarnai keluarga, saudara, tetangga dan masyarakat, yang akhirnya insya’Alloh akan dapat membawa kebaikan pada nusa-bangsa, negara dan agama. Semoga. Aamiin.


Sumber : http://infotechpersada.com/sakinah/?p=1604

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kisah Sedekah Yang Salah Alamat


Suatu ketika, Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau berkata kepada mereka,

“Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!’ Dan benar, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

“Akhirnya, kabar tersebut sampai juga kepada pria itu. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

“Maka, pria itu kemudian mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah orang kaya. Sehingga, kejadian itu lagi-lagi menjadi perbincangan khalayak ramai, lalu sampai juga kepada pria yang bersedekah itu.

“Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam,’Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

Maka, dia kemudian, dengan cermat, mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri. Tak lama berselang, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu sampai kepada pria yang bersedekah itu.

Mendengar kabar demikian, pria itu pun mengeluh, ‘Ya Allah! Segala puji ha¬nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!’

Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu.”

(Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Muslim dan Abu Hurairah dalam Teladan indah Rasullulah dalam ibadah, Ahmad Rofi ‘Usmani)

Penolong Misterius

Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa.

"Allahu Akbar!" suara lelaki itu mengawali shalatnya.

Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do'a. Seusai sholat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah.

Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya.

"Rupanya malam sudah larut...,"bisiknya.

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkannya.

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah.

"Alhamdulillah..., harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,"kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya.

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu.

"Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!" seru orang yang mendapat jatah makanan.

"Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakannya untuk kita!" sambut yang lainnya.

Begitu pula malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan.

"Sungguh! Kita terbebas darikesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!" kata orang miskin ketika pagi tiba.

"Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong...," timpal seorang temannya.

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntungan.

Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya?

Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparn. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya!

"Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak...," orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. "Ayo cepat! Mana uangnya?!" gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.

"Aku...aku...," Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok. Membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali.

"Siapa kau?!" tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu.

"Ampun, Tuan....jangan siksa saya...saya hanya seorang budak miskin...,"katanya ketakutan.

"Kenapa kau merampokku?" Tanya Ali kemudian.

"Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan," sahutnya dengan wajah pucat.

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus.

"Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat..."

"Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?" kata Ali.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub.

"Sekarang pulanglah!" kata Ali.

Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis.

"Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertobat kepada Allah...saya berjanji tidak akan mengulanginya," kata orang itu penuh sesal.

Ali tersenyum dan mengangguk.

"Hai, orang yang tobat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah maha pengampun." Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertobat atas kesalahannya.

"Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini...," kata Ali sebelum orang itu pergi." Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku," sambung Ali.

Dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.

Suatu ketika Ali Zainal Abidin wafat. Orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang.

Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya.

"Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?"

"Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah," kata orang yang bertobat itu dengan rasa haru.

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan.

Orang yang bertobat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo'a," Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw.