“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari) <---> Bagi yang membaca ini alangkah baiknya untuk membagikan pada yang lain, Ayo silahkan dishare.... Teruskan ilmu, jangan disimpan sendiri...

Salurkan rezeki anda melalui rekening berikut :

--> Bank Muamalat 3560009874 --> Bank Mandiri 114-00-0594415-5
--> Bank BRI 228401000197560 --> Bank BCA 8110330589

Merenungkan Al-Qur’an Ketika Membaca Atau Mendengarkannya


Allah Subhannahu wa Ta'ala telah mengabarkan bahwa Ia telah menurunkan Al-Qur’an ini untuk dibaca dengan perenungan dan pema-haman. Maka Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)

Allah Subhannahu wa Ta'ala mengingkari orang-orang yang tidak merenungkannya:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)

FirmanNya yang lain:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentu-lah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisa’: 82)

Syaikh Ibnu Sa’di v berkata dalam Tafsir-nya tentang ayat ini: “Allah memerintahkan agar kitabNya direnungkan dan diteliti maknanya dengan pandangan tajam dalam memi-kirkan asas-asasnya, ancamannya dan perintah-perintahnya. Maka dengan merenungkan kitab Allah akan mendapatkan kuncinya ilmu dan pengetahuan, menghasilkan banyak ke-baikan, asas semua ilmu, menambah keimanan dalam hati dan mengokohkannya seperti pohon yang akarnya tertancap, mengenalkannya kepada Allah yang disembah, mengenalkan sifat-sifat kesempurnaanNya, hal-hal yang menyucikannya dari kekurangan, mengenalkan jalan yang akan menyampai-kan kepadaNya dan sifat-sifat ahli jalan itu. Dan hal-hal yang dapat mendekatkan padaNya, mengenalkan kepada musuh yang sesungguhnya, dan ciri-ciri jalan yang menye-babkan penempuhnya disiksa. Setiap hamba akan bertambah pemahamannya, ilmunya dan perbuatannya serta penglihatan mata hatinya, karena maksud inilah Allah menurunkan Al-Qur’an.”

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)

Al-Allamah Muhammad Amin Asy-Syanqithi mengo-mentari ayat-ayat di atas yang memohon agar dihayati kemudian berkata: “Ayat-ayat yang disebutkan itu menunjukkan bahwa merenungkan Al-Qur’an dan memahaminya kemudian mengamalkan apa yang diperintahkannya merupakan perkara yang harus diperhatikan kaum muslimin.”

Hal itu merupakan urusan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para saha-batnya Radhiallaahu anhum, murid-murid mereka dari para tabi’in bersama Al-Qur’an. Dalam Musnad Imam Ahmad dari ‘Aisyah Radhiallaahu anha bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam mengisahkan pada orang-orang yang mem-baca Al-Qur’an di malam hari sekali atau dua kali. Kemudian berkata: “Mereka membacanya namun belum membaca yang sesungguhnya. Aku pernah berdiri bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam semalam suntuk. Beliau membaca surat Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa’. Beliau tidak melewati seayat pun mengenai ayat adzab melainkan memohon perlindungan kepada Allah dan tiada melewati ayat yang mengabarkan kenikmatan melainkan memohon kepada Allah.”

Di dalam Shahih Muslim dari Hudzaifah Radhiallaahu anhu berkata: “Saya shalat bersama Nabi Shalallaahu alaihi wasalam suatu malam, beliau membaca surat Al-Baqarah. Aku katakan: ‘Beliau akan ruku’ setelah seratus ayat dibacanya’, (ternyata) beliau meneruskan mem-baca surat An-Nisa’ kemudian Ali Imran secara bersam-bung. Jika membaca ayat tasbih maka beliau bertasbih, jika melewati ayat permohonan beliau berdoa, jika melewati ayat perlindungan, kemudian beliau ruku’ dengan membaca ‘subhaana rabbiyal ‘adziim’.”

Juga dalam Shahih Muslim dari Abi Wail berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata: ‘Sesungguhnya aku membaca surat-surat mufasshal (surat pendek) dalam setiap rakaat. Maka Abdullah Ibnu Mas’ud berkata: Hal ini seperti rambut ini, sesungguhnya suatu kaum membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongannya (tidak berbekas), seandainya berbekas dan tertancap dalam hati niscaya bermanfaat.”

Dan dari Abi Ubaid dari Abi Hamzah, aku bertanya kepada Ibnu Abbas: “Sesungguhnya aku cepat dalam membaca dan jika membaca Al-Qur’an (khatam) dalam tiga hari. Maka beliau berkata: ‘Membaca surat Al-Baqarah dengan perlahan-lahan dan merenungkannya lebih baik bagiku daripada membaca seperti kamu katakan.”

Ibnu Hajar berkata: “Abu Daud memiliki jalur lain dari Abi Hamzah. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas: Sesungguhnya aku seorang yang cepat bacaannya dan aku menghatamkan Al-Qur’an dalam satu malam, maka Ibnu Abbas berkata: Membaca satu surat lebih aku sukai, jika engkau membaca maka bacalah dengan bacaan yang didengar telingamu dan berbekas dalam hatimu.”

Salah seorang dari mereka memanjangkan bacaannya ketika berdiri membaca ayat untuk menghayatinya. Dalam Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan Al-Mustadrak Al-Hakim dari Abi Dzar Radhiallaahu anhu berkata: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berdiri dengan mengulang-ulang ayatnya hingga pagi, yaitu ayat:

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118).

Dari Tamim Ad-Dari bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengulang-ulang ayat ini hingga menjelang pagi:

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu me-nyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih.” (Al-Jatsiyah: 21).

Dari Abbad Ibnu Hamzah berkata: “Saya mengunjungi Asma’ Radhiallaahu anha sedang ia membaca:
“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.” (Ath-Thur: 27)

Ia mengulang-ulangnya seraya berdoa hingga saya menunggu terlalu lama dan saya pun pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan saya, kemudian saya kembali sedang ia masih mengulang-ulanginya dan tetap berdoa.”

Ibnu Mas’ud mengulang-ulang firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahu-an.” (Thaha: 114)

Said Ibnu Jubair mengulang-ulang ayat:
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (Al-Baqarah: 281)

“Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka.” (Ghafir: 70-71)
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemu-rah.” (Al-Infithar: 6)

Dari nash-nash di atas menunjukkan amal Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan para sahabatnya serta tabi’in. Kita tahu pentingnya menghayati Al-Qur’an dan memahami apa yang dimaksud Allah Subhannahu wa Ta'ala padanya. Karena itu memperbanyak bacaan yang mengandung kesalahan adalah kurang terpuji, bahkan dilarang oleh nash-nash.

Dalam Sunan Abi Daud dan At-Tirmidzi dari Abdillah Ibnu Amr Ibnul ‘Ash Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
(( لاَ يَفْقَهُ مِنْ قَرَأَ الْقُرْآنُ فِي أقل مِنْ ثَلاَثٌ ))
“Tidak akan dapat memahami Al-Qur’an orang yang membaca kurang dari tiga hari.”

Imam An-Nawawi telah menjadikan kriteria ukuran kecepatan dalam membaca Al-Qur’an dan ukuran memper-banyak menghatamkannya adalah kemampuan perenungan dan pemahamannya. Beliau menceritakan keadaan orang-orang salaf dalam menghatamkan Al-Qur’an dan kecepatan mereka, kemudian berkata: “Pemilihan itu berbeda antar individu, barangsiapa memiliki kejernihan berfikir lembut di sekitar makna maka hendaknya ia memendekkan hingga mencapai kesempurnaan pemahaman dari yang dibacanya, demikian pula yang sibuk dengan mengajar atau selainnya dari kepentingan agama dan kemaslahatan kaum muslimin umumnya maka memperpendek sesuai ketentuan, yang disebabkan dari halangan untuk mewujudkannya. Kalau bukan termasuk golongan tersebut di atas maka hendaklah ia memperbanyak bacaannya tanpa melanggar batasan agama, dan terlalu cepat.” 





Share

0 Comment for "Merenungkan Al-Qur’an Ketika Membaca Atau Mendengarkannya"

Kisah Sedekah Yang Salah Alamat


Suatu ketika, Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau berkata kepada mereka,

“Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!’ Dan benar, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

“Akhirnya, kabar tersebut sampai juga kepada pria itu. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

“Maka, pria itu kemudian mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah orang kaya. Sehingga, kejadian itu lagi-lagi menjadi perbincangan khalayak ramai, lalu sampai juga kepada pria yang bersedekah itu.

“Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam,’Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

Maka, dia kemudian, dengan cermat, mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri. Tak lama berselang, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu sampai kepada pria yang bersedekah itu.

Mendengar kabar demikian, pria itu pun mengeluh, ‘Ya Allah! Segala puji ha¬nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!’

Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu.”

(Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Muslim dan Abu Hurairah dalam Teladan indah Rasullulah dalam ibadah, Ahmad Rofi ‘Usmani)

Bersedekahlah Setiap Hari



“Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat.

Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”,

sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)”

(HR Bukhary 5/270)

Lihat catatan keuangan anda/keuangan perusahaan anda !
Apakah pengeluaran lebih besar dari pemasukan? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang pailit.
Apakah pengeluaran dan pemasukan seimbang? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang rugi.
Apakah pemasukan lebih besar dari pengeluaran? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang beruntung.
Hari ini mesti lebih baik dari ari kemarin dan hari esok meski lebih baik dari hari ini.

Perbanyak infaq anda jika anda mengalami kerugian, jangan berhenti berinfaq ketika anda meraih keuntungan yang banyak. Justeru semakin banyak untung, akan semakin keranjingan berinfaq.

Ayo salurkan sebagian rezeki anda kepada orang-orang yang ada di sekitar anda, atau juga bisa melalui program yang kami tawarkan berikut ini :

1. Zakat
2. Infaq/shadaqah
3. Wakaf
4. Anak Yatim

Salurkan sebagian rezeki anda melalui salah satu nomor rekening berikut :
--> Bank Muamalat No Rek. 3560009874 --> Bank Mandiri No Rek. 114-00-0594415-5
--> Bank BRI No Rek. 228401000197560
--> Bank BCA No Rek. 8110330589
Semua atas nama Wagimin.

Mohon konfirmasinya seberapapun harta yang anda infaqkan

Bila sudah ditransfer mohon konfirmasi via SMS ke nomor HP 089627492625 caranya :


1. Zakat
Ketik : ZAKAT_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : ZAKAT 01012011 Hamba Allah di Surabaya BNI Syariah Rp. 200 .000,-

2. Infaq/shadaqah
Ketik : INFAQ_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : INFAQ 01012011 Hamba Allah di Surabaya BNI Syariah Rp. 50.000,-

3. Waqaf
Ketik : WAQAF_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : INFAQ 01012011 Hamba Allah di Surabaya BNI Syariah Rp. 5.000.000,-

4. Anak Yatim
Ketik : YATIM_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : YATIM 01012011 Hamba Allah di Surabaya BNI Syariah Rp. 300.000,-


Terimakasih atas partisipasinya kepada rekan-rekan yang telah berbagi terutama buat mereka yang belum melakukan konfirmasinya, semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan menjadi amalan yang akan memperberat amal kebaikan di yaumil akhir.

Penolong Misterius

Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa.

"Allahu Akbar!" suara lelaki itu mengawali shalatnya.

Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do'a. Seusai sholat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah.

Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya.

"Rupanya malam sudah larut...,"bisiknya.

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkannya.

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah.

"Alhamdulillah..., harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,"kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya.

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu.

"Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!" seru orang yang mendapat jatah makanan.

"Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakannya untuk kita!" sambut yang lainnya.

Begitu pula malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan.

"Sungguh! Kita terbebas darikesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!" kata orang miskin ketika pagi tiba.

"Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong...," timpal seorang temannya.

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntungan.

Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya?

Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparn. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya!

"Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak...," orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. "Ayo cepat! Mana uangnya?!" gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.

"Aku...aku...," Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok. Membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali.

"Siapa kau?!" tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu.

"Ampun, Tuan....jangan siksa saya...saya hanya seorang budak miskin...,"katanya ketakutan.

"Kenapa kau merampokku?" Tanya Ali kemudian.

"Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan," sahutnya dengan wajah pucat.

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus.

"Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat..."

"Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?" kata Ali.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub.

"Sekarang pulanglah!" kata Ali.

Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis.

"Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertobat kepada Allah...saya berjanji tidak akan mengulanginya," kata orang itu penuh sesal.

Ali tersenyum dan mengangguk.

"Hai, orang yang tobat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah maha pengampun." Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertobat atas kesalahannya.

"Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini...," kata Ali sebelum orang itu pergi." Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku," sambung Ali.

Dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.

Suatu ketika Ali Zainal Abidin wafat. Orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang.

Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya.

"Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?"

"Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah," kata orang yang bertobat itu dengan rasa haru.

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan.

Orang yang bertobat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo'a," Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw.
Back To Top