“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari) <---> Bagi yang membaca ini alangkah baiknya untuk membagikan pada yang lain, Ayo silahkan dishare.... Teruskan ilmu, jangan disimpan sendiri...

Salurkan rezeki anda melalui rekening berikut :

--> Bank Muamalat 3560009874 --> Bank Mandiri 114-00-0594415-5
--> Bank BRI 228401000197560 --> Bank BCA 8110330589

Ciri Keumuman Risalah Nabi Muhammad saw.

Oleh: Tim dakwatuna.com

Kirim Print
Risalah Nabi Muhammad untuk seluruh manusia

[ الرسالة للناس كافة ]

Risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. tidak hanya untuk umat tertentu, suku tertentu, bangsa tertentu. Tetapi, untuk seluruh manusia yang hidup di muka bumi. Hal ini dijelaskan oleh Allah azza wajalla, “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui.” [QS. Saba (34): 28]

Sebagai sebuah risalah yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, maka risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. memiliki karakteristik kemanusiaan (insaniyah). Karakter insaniyah yang ditunjukkan oleh risalah ini adalah prinsip persamaan antar sesama manusia. Menurut pandangan Islam, manusia tidak dibedakan oleh warna kulit, suku, bahasa, dan atau perbedaan-perbedaan lainnya. Hal ini difirmankan oleh Allah swt.

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [QS. Al-Hujurat (49): 13]

Bentuk nyata dari prinsip persamaan ini adalah Islam mengikis habis diskriminasi ras (rasialisme) dalam kehidupan. Tidak ditemukan bangsa kulit putih lebih unggul ketimbang kulit hitam sehingga bangsa kulit putih harus menjadi tuan bagi bangsa kulit hitam, dan bangsa kulit hitam menjadi budaknya. Islam pun mengikis habis diskriminasi keturunan (kasta-kasta) dalam kehidupan. Tidak ada kasta atas atau kasta bawah. Tidak ada keturunan berdarah biru (ningrat) atau jelata. Islam pun mengikis habis pembedaan berdasarkan status ekonomi, pangkat, profesi, dan atau hal-hal lain yang melekat pada diri seseorang.

Jadi, tidak menjadi pembeda kekayaan dan kemiskinan, tidak menjadi pembeda jenderal dan kopral, tidak menjadi pembeda pemerintah dan rakyat biasa, tidak menjadi pembeda dokter dan petugas cleaning service. Seorang dokter adalah manusia, seorang petugas cleaning service pun manusia. Seorang jenderal adalah manusia, seorang kopral pun manusia. Seorang yang kaya adalah manusia, seorang yang miskin pun manusia. Pendek kata, semua orang sama atas kemanusiaannya. Dan yang akan menjadi penentu prestasi manusia di hadapan Allah adalah tingkat ketakwaannya. Dan ketakwaan merupakan sesuatu yang setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperolehnya. Seorang ningrat berpeluang untuk menjadi orang bertakwa sebagaimana peluang yang sama juga dimiliki oleh orang biasa.

Bilal bin Rabbah tadinya adalah seorang budak yang berkulit hitam legam—merupakan perawakan orang Habasyah (Etiopia)—kemudian menjadi orang yang mendapatkan posisi berarti di hadapan Allah yang sampai-sampai terompahnya sudah terdengar di surga di saat Bilal masih mengembara di dunia.

Contoh lain bisa dilihat dari kisah Hablah bin Al-Aiham, seorang Amir Ghassan. Seorang Arab Badui mengadukan kepada Amiril Mukminin Umar bin Khattab bahwa Hablah telah menamparnya tanpa alasan yang benar. Maka Umar tidak dapat berbuat apa pun, kecuali menghadirkan Hablah, menuntut dan menghukumnya dengan qishash. Si orang Arab Badui itu boleh membalas satu tamparan untuk satu tamparan, kecuali dia mau memaafkan dan mengampuni perbuatan Hablah.

Namun Hablah keberatan. Ia berkata kepada Umar, “Bagaimana ia melaksanakan qishash pada diriku padahal aku seorang raja dan dia hanya rakyat biasa?”

Lalu Umar menjawab, “Sesungguhnya Islam telah menyamakan antara kamu berdua.”

Amir Ghassan itu tidak menyadari nilai agung ajaran Islam itu. Ia memilih kabur dari Madinah dengan murtad dari Islam yang mewajibkan persamaan antara seorang raja dan rakyat jelata.

Selain tumbuh prinsip persamaan, juga tumbuh pula prinsip persaudaraan. Persaudaraan antara sesama manusia, apa pun suku, bangsa, kedudukan sosial, strata ekonomi yang diikat oleh tali akidah. Tentang ini Allah swt. berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu, dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS. Al-Hujurat (49): 10]

Al-muslimu akhul muslim. Orang muslim yang satu merupakan saudara dari muslim yang lain. Prinsip persaudaraan yang seperti inilah yang menjadi penyebab tidak sedikit orang kafir memeluk Islam. Persaudaraan yang seperti ini yang membuat iri para malaikat. Persaudaraan yang membuat kuat setelah kelemahan. Persaudaraan yang membuat potret masyarakat Islam berbeda dan khas.

Risalah Muhammad merupakan risalah terakhir

[ خاتم الرسالة ]

Risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. merupakan risalah terakhir. Tidak akan datang risalah setelahnya. Kalaupun ada yang mencoba mendatangkannya—tentu buatan manusia—tidak akan sanggup menandingi terangnya Islam. Ibarat cahaya bulan di siang hari, tak akan sanggup menunjukkan cahayanya. Akan tenggelam oleh terangnya sinar matahari. Sehingga, yang datang kemudian –baik yang mengatasnamakan agama atau bukan, yang lama maupun yang baru, yang lokal maupun yang global, didukung dengan teknologi ataupun tidak– tidak akan menggantikan risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw.

Lihat saja yang mutakhir. Ilmu pengetahuan akan dan telah dijadikan agama oleh sebagian manusia di dunia. Padahal ilmu pengetahuan tidak akan bisa menggantikan agama sampai kapanpun. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Dr. Yusuf Qaradhawi, “Ilmu pengetahuan sama sekali bukanlah alternatif pengganti agama dan keimanan. Karena, ruang lingkup ilmu pengetahuan bukan ruang lingkup agama. Yang saya maksud dengan ‘Ilmu Pengetahuan’ di sini adalah ilmu pengetahuan menurut versi Barat yang terbatas. Bukan menurut persepsi Islam yang komprehensif, yang mencakup ilmu pengetahuan tentang objek fisik partikel alam dan ilmu pengetahuan tentang hakekat eksistensi kehidupan yang besar, yaitu ilmu pengetahuan yang mencakup ilmu dunia dan ilmu agama. Bukan sekedar ilmu pengetahuan tentang materi dan karakter partikelnya saja. Melainkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam, kehidupan, manusia, dan Penciptanya Yang Maha Suci.

Ilmu pengetahuan dengan persepsi Barat tidak pantas menjadi pengganti agama, karena fungsi ilmu pengetahuan ini adalah memudahkan fasilitas hidup bagi manusia, bukan untuk menginterpretasikan [menafsirkan] kepada manusia rahasia kehidupan.

Oleh karena itu kita melihat negeri-negeri kontemporer yang paling besar kemajuannya dalam ilmu pengetahuan dan pencapaian teknologinya, justru warganya banyak mengeluhkan kekosongan rohani, stress kejiwaan, kekalutan pikiran, dan perasaan minder, perasaan sengsara. Dan kita saksikan para generasi mudanya terjerumus dalam berbagai kontroversi ekstremitas pemikiran dan perilaku. Berontak kepada mekanisme kehidupan dan materialisme peradaban, meskipun mereka tidak sampai menemukan petunjuk konsep kehidupan yang benar dan jalan hidup yang lurus.”

Sebagai risalah terakhir yang diturunkan Allah swt., risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. memiliki karakteristik kesempurnaan (takamuliyah) sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” [QS. Al-Maidah (5): 3]

Sifat kesempurnaan yang Allah swt. tetapkan itu menjamin bahwa Risalah Muhammad saw akan bisa menjawab dan bahkan mengantisipasi permasalahan yang diakibatkan oleh perkembangan kehidupan manusia hingga akhir zaman.

Kesempurnaan risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. diperkuat oleh masih authentic-nya sumber utama risalah ini, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Keduanya ini telah selamat dari tangan-tangan jahil yang ingin mengubahnya. Dari masa ke masa selalu ada ulama-ulama ahli dalam bidang keduanya yang mendeteksi setiap kesalahan dan upaya penyimpangan. Lalu mereka meluruskan hal-hal yang salah tersebut.

Kedua sumber utama risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. telah memuat hal-hal pokok tentang bagaimana menyelesaikan dan mengantisipasi masalah manusia. Yaitu, dengan memberikan prinsip-prinsip yang tetap dan tidak berubah (tsawabith) sampai akhir zaman untuk dijadikan rujukan dan pijakan atas sesuatu yang berubah (mutaghayyirat), misalnya yang menyangkut metodologi dan sarana-sarana.

Risalah Rahmatan lil ‘alamin

[ الرسالة رحمة للعالمين ]

Nabi Muhammad saw. diturunkan sebagai rahmat untuk seluruh alam, sebagaimana firman Allah swt, “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [QS. Al-Anbiya (21): 107]. Sehingga risalahnya adalah risalah yang membawa rahmat bagi seru sekalian alam. Sebagai sebuah risalah rahmat, maka Islam memiliki karakter wasathiyah (pertengahan) atau yang lebih dikenal tawazun (seimbang). Wasathiyah atau tawazun itu adalah karakter Islam yang pertengahan dan seimbang antara dua kutub yang berlawanan dan bertentangan. Masing-masing kutub tidak berpengaruh sendirian sementara kutub lawannya dibuang, dan yang salah satu dari kedua kutub itu tidak diambil lebih dari yang semestinya (haknya) dan melanggar serta menzhalimi kutub lawannya.

Karakter Islam itu juga tidak tasyadud (ketat, menyusahkan) dan tidak tasahul (longgar, menggampangkan). Kalau Islam bersifat tasyadud akan hilang rasanya sebagai rahmat, karena orang yang melaksanakan Islam akan memiliki kesulitan. Padahal Rasulullah saw. sebagai pembawanya memerintahkan untuk mempermudah, jangan mempersulit. Dan tasahul juga akan membuat rasa rahmat hilang, karena aturan Islam menjadi tidak jelas batasannya. Hidup tanpa aturan akan membuat hidup karut-marut. Lalu, seperti apa rasanya hidup yang karut-marut? Akan banyak orang yang terzhalimi karena hakikatnya tanpa aturan akan mengambil hak orang lain.

Wasathiyah dalam ibadah dan praktik ritual

Wasathiyah dalam ibadah terlihat dalam firman Allah swt, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” [QS. Al-Jumuah (62): 9-10]

Terlihat betul pertengahan dalam ibadah dan rahmatnya Islam pada ayat-ayat di atas. Islam tidak mengharuskan umatnya untuk memutuskan sama sekali aspek duniawi (dalam hal ini aktivitas jual beli) atas ibadah. Sebelum shalat Jum’at, umat Islam melakukan perdagangan. Setelah itu shalat Jum’at, umat Islam melakukan perdagangan kembali, dengan selalu berdzikir kepada Allah. Ini berarti kehidupan berdangangnya pun tidak lepas dari aktivitas ibadah dan praktik ritual lainnya.

Wasathiyah dalam moral

Islam bersikap moderat antara kaum idealis ekstrim –yang membayangkan manusia sebagai malaikat atau menyerupai malaikat. Maka mereka meletakkan untuknya nilai-nilai dan adab susila yang tidak mungkin untuk dilaksanakan– dengan kaum pragmatis (realis) ekstrim –yang menyangka manusia adalah bagaikan hewan. Maka mereka menginginkan tata perilaku yang tidak pantas bagi manusia.

Manusia menurut pandangan Islam, tentu sebagaimana yang Allah sampaikan lewat firman-Nya, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” [QS. Asy-Syams (91): 7-10]

Begitulah ciri keumuman risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. kepada kita.


Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/ciri-keumuman-risalah-nabi-muhammad-saw/



Share

0 Comment for "Ciri Keumuman Risalah Nabi Muhammad saw."

Kisah Sedekah Yang Salah Alamat


Suatu ketika, Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau berkata kepada mereka,

“Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!’ Dan benar, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

“Akhirnya, kabar tersebut sampai juga kepada pria itu. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, ‘Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

“Maka, pria itu kemudian mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah orang kaya. Sehingga, kejadian itu lagi-lagi menjadi perbincangan khalayak ramai, lalu sampai juga kepada pria yang bersedekah itu.

“Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam,’Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!’

Maka, dia kemudian, dengan cermat, mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri. Tak lama berselang, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu sampai kepada pria yang bersedekah itu.

Mendengar kabar demikian, pria itu pun mengeluh, ‘Ya Allah! Segala puji ha¬nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!’

Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu.”

(Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Muslim dan Abu Hurairah dalam Teladan indah Rasullulah dalam ibadah, Ahmad Rofi ‘Usmani)

Bersedekahlah Setiap Hari



“Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat.

Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”,

sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)”

(HR Bukhary 5/270)

Lihat catatan keuangan anda/keuangan perusahaan anda !
Apakah pengeluaran lebih besar dari pemasukan? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang pailit.
Apakah pengeluaran dan pemasukan seimbang? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang rugi.
Apakah pemasukan lebih besar dari pengeluaran? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang beruntung.
Hari ini mesti lebih baik dari ari kemarin dan hari esok meski lebih baik dari hari ini.

Perbanyak infaq anda jika anda mengalami kerugian, jangan berhenti berinfaq ketika anda meraih keuntungan yang banyak. Justeru semakin banyak untung, akan semakin keranjingan berinfaq.

Ayo salurkan sebagian rezeki anda kepada orang-orang yang ada di sekitar anda, atau juga bisa melalui program yang kami tawarkan berikut ini :

1. Zakat
2. Infaq/shadaqah
3. Wakaf
4. Anak Yatim

Salurkan sebagian rezeki anda melalui salah satu nomor rekening berikut :
--> Bank Muamalat No Rek. 3560009874 --> Bank Mandiri No Rek. 114-00-0594415-5
--> Bank BRI No Rek. 228401000197560
--> Bank BCA No Rek. 8110330589
Semua atas nama Wagimin.

Mohon konfirmasinya seberapapun harta yang anda infaqkan

Bila sudah ditransfer mohon konfirmasi via SMS ke nomor HP 089627492625 caranya :


1. Zakat
Ketik : ZAKAT_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : ZAKAT 01012011 Hamba Allah di Surabaya BNI Syariah Rp. 200 .000,-

2. Infaq/shadaqah
Ketik : INFAQ_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : INFAQ 01012011 Hamba Allah di Surabaya BNI Syariah Rp. 50.000,-

3. Waqaf
Ketik : WAQAF_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : INFAQ 01012011 Hamba Allah di Surabaya BNI Syariah Rp. 5.000.000,-

4. Anak Yatim
Ketik : YATIM_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : YATIM 01012011 Hamba Allah di Surabaya BNI Syariah Rp. 300.000,-


Terimakasih atas partisipasinya kepada rekan-rekan yang telah berbagi terutama buat mereka yang belum melakukan konfirmasinya, semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan menjadi amalan yang akan memperberat amal kebaikan di yaumil akhir.

Penolong Misterius

Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa.

"Allahu Akbar!" suara lelaki itu mengawali shalatnya.

Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do'a. Seusai sholat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah.

Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya.

"Rupanya malam sudah larut...,"bisiknya.

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkannya.

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah.

"Alhamdulillah..., harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,"kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya.

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu.

"Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!" seru orang yang mendapat jatah makanan.

"Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakannya untuk kita!" sambut yang lainnya.

Begitu pula malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan.

"Sungguh! Kita terbebas darikesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!" kata orang miskin ketika pagi tiba.

"Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong...," timpal seorang temannya.

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntungan.

Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya?

Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparn. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya!

"Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak...," orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. "Ayo cepat! Mana uangnya?!" gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.

"Aku...aku...," Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok. Membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali.

"Siapa kau?!" tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu.

"Ampun, Tuan....jangan siksa saya...saya hanya seorang budak miskin...,"katanya ketakutan.

"Kenapa kau merampokku?" Tanya Ali kemudian.

"Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan," sahutnya dengan wajah pucat.

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus.

"Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat..."

"Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?" kata Ali.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub.

"Sekarang pulanglah!" kata Ali.

Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis.

"Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertobat kepada Allah...saya berjanji tidak akan mengulanginya," kata orang itu penuh sesal.

Ali tersenyum dan mengangguk.

"Hai, orang yang tobat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah maha pengampun." Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertobat atas kesalahannya.

"Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini...," kata Ali sebelum orang itu pergi." Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku," sambung Ali.

Dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.

Suatu ketika Ali Zainal Abidin wafat. Orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang.

Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya.

"Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?"

"Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah," kata orang yang bertobat itu dengan rasa haru.

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan.

Orang yang bertobat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo'a," Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw.
Back To Top