Kamis, 08 Oktober 2009

Generasi Qur’ani yang Unik

Ada suatu kenyataan sejarah yang patut direnungkan oleh mereka yang bergerak di bidang dakwah Islamiyyah di setiap tempat dan di setiap waktu. Mereka patut merenungkannya lama-lama, karena ia mempunyai pengaruh yang menentukan bagi metode dan arah da’wah. Dakwah ini pernah menghasilkan suatu generasi manusia, yaitu generasi sahabat –semoga Allah meridhoi mereka- suatu generasi yang mempunyai ciri tersendiri dalam seluruh sejarah Islam, dalam seluruh sejarah ummat manusia. Lalu da’wah ini tidak pernah menghasilkan jenis yang seperti ini sekali lagi. Memang terdapat orang-orang itu di sepanjang sejarah. Tetapi belum pernah terjadi sekalipun juga bahwa orang-orang seperti itu berkumpul dalam jumlah yang demikian banyaknya, pada suatu tempat, sebagaimana yang pernah terjadi pada periode pertama dari kehidupan da’wah ini. Kenyataan ini jelas terjadi. Ia mempunyai makna yang patut direnungkan lama-lama, dengan harapan kita mengetahui rahasianya.

Qur’an yang dimiliki dakwah ini ada ditangan kita. Hadits Rasulullah saw dan petunjuk-petunjuknya yang praktis juga ada ditangan kita. Yang tidak ada sekarang hayalah diri pribadi Rasulullah saw. Apakah ini yang menjadi rahasianya? Andaikata adanya pribadi Rasulullah saw itu demikian menentukan agar dakwah ini mendatangkan buahnya, tentulah Allah tidak menjadikan dakwah ini untuk seluruh umat manusia. Tentu tidak dijadikannya menjadi risalah terakhir. Tetapi Allah menjamin untuk memelihara ketinggian dakwah ini, dan mengajarkan bahwa dakwah ini akan berjalan terus setelah tidak adanya Rasulullah saw. Maka setelah dua puluh tiga tahun melaksanakan dakwah ini. Allah swt memanggil Rasulullah saw dan dikekalkanNya agama ini hingga akhir zaman.

Lalu, marilah kita meneliti sebab yang lain. Marilah kita lihat sumber tempat pengambilan generas pertama ini. Mungkin ada yang telah berubah. Sumber pertama yang menjadi tempat pengambilan generasi itu adalah sumber Al Qur’an. Al Qur’an saja. Hadits dan petunjuk Rasulullah saw hanyalah satu bekas dari sumber itu. Sewaktu Aisyah ra ditanya tentang budi pekerti Rasulullah saw, ia berkata: Budi pekertinya adalah Al-Qur’an (Hadits Nasai).

Jadi Al Qur’anlah satu-satunya sumber tempat pengambilan mereka, standar yang menjadi ukuran mereka dan tempat dasar mereka berfikir. Hal ini terjadi bukan karena di zaman itu tidak ada peradaban atau pengetahuan. Bukan! Waktu itu ada kebudayaan Romawi. Pengetahuan, dan hukum Romawi yang sampai sekarang masih dihayati di Eropa. Juga terdapat peradaban, logika, filsafat dan kesenian Yunani Kuno. Dan sampai sekarang masih tetap merupakan sumber pemikiran Barat. Juga ada peradaban Persia dengan seni, kepercayaan dan sistem emerintahannya. Dan banyak lagi peradaban lain seperti peradaban India, Cina dan sebagainya. Agama Yahudi dan Nasrani juga hidup ditengah jazirah Arab itu.

Jadi yang kurang bukanlah peradaban atau kebudayaan internasional, sehingga generasi itu terpaksa membatasi diri kepada Kitab Allah saja. Tetapi hal itu adalah suatu ”rencana” yang telah dibuat. Suatu metode yang disengaja. Hal ini dapat dilihat dari kemarahan Rasulullah saw saat beliau melihat Umar bin Khattab membawa selembar Taurat ditanganya.Rasulullah saw berkata: ”Demi Allah, seandainya Nabi Musa hidup dikalangan kamu sekarang ini, ia mesti mengikuti saya.”

Jadi ada tujuan Rasulullah saw untuk membatasi sumber pengambilan generasi pertama dalam taraf formatifnya yaitu Kitab Allah saja. Membersihkan jiwa dan meluruskan keadaan dengan sumber itu saja. Karena itu beliau marah saat Umar ra mencoba mengambil sumber lain. Rasulullah saw ingin menciptakan suatu generasi yang bersih jiwa, otak, konsepsi dan pemikirannya dari pengaruh lain, selain metode ilahi yang dikandung oleh Al Qur’an. Jadi generasi itu hanya mengambil dari sumber itu saja. Itulah sebabnya ia mempunyai pengaruh demikian uniknya dalam sejarah.

Tetapi setelah itu apa yang terjadi. Segala macam sumber telah campur aduk. Sumber pengambilan generasi berikunya telah dituangkan filsafat dan logika Yunani, kosepsi Persia, cerita israiliyat Yahudi, teologi Nasrani dan sisa-sia peradaban kebudayaan lain. Semuanya ini campur aduk dengan tafsir Al Qur’an, ilmu kalam, fiqh dan usul. Sumber yang bercampur aduk inilah yang menjadi sumber pengambilan generasi-generasi setelah generasi pertama tersebut. Karena itu generasi pertama itu tidak pernah terulang lagi.

Ada fakor lain selain berbedanya tempat sumber pengambilan. Generasi pertama itu, memandang Al Qur’an bukan untuk tujuan menambah pengetahuan atau memperluas pandangan. Bukan untuk tujuan menikmati keindahan sastranya. Tidak ada diantara mereka mempelajari Al Qur’an untuk tujuan menambah perbendaharaan ilmu saja. Mereka mempelajari Al Qur’an untuk menerima perintah Allah. Mereka menerima perintah untuk segera dilaksanakan setelah diterima. Karena itu, tidak seorangpun yang minta tambah perintah sebanyak mungkin dalam satu pertermuan saja. Karena hal itu hanya akan memperbanyak kewajiban dan tanggung jawab di atas pundaknya. Mereka merasa puas dengan kira-kira sepuluh ayat saja. Dihafal dan dilaksanakan.

Perasaan seperti inilah, perasaan menerima perintah untuk dilaksanakan yang menyebabkan Qur’an membukakan bagi mereka persepektif kesenangan yang tidak akan mereka dapatkan seandainya mereka bermaksud mempelajari Al Quran hanya untuk studi, pelajaran dan pembahasan saja. Tugas mereka menjadi mudah. Berat tanggung jawab menjadi ringan. Qur’an telah terlebur dengan jasad mereka. Sehingga dalam diri dan kehidupan mereka, Qur’an telah menjadi suatu metode yang realistis, telah menjadi suatu illmu yang hidup, yang bukan hanya ilmu yang tinggal di otak atau dalam buku-buku. Tetapi berubah menjadi hasil dan merubah garis perjalanan hidup.

Qur’an tidak turun sekaligus. Ia turun sesuai dengan kebutuhan yang selalu timbul dalam masyarakat dan kehidupan, sesuai dengan masalah praktis yang dihadapi jamaah Muslim dalam kehidupan nyata. Satu atau beberapa ayat turun menggariskan untuk mereka metode bekerja dalam suatu situasi, mengoreksi kesalahan pemikiran dan tindakan mereka, menghubungkan mereka dalam semua hal dengan Allah swt, memperkenalkan mereka kepada sifat Allah yang mempengaruhi alam semesta. Mereka membentuk diri sesuai dengan metode Ilahi yang lurus. Metode menerima untuk dilaksanakan dan dikerjakan yang telah menciptakan generasi pertama. Metode menerima untuk dipelajari dan dinikmati, itulahl yang telah melahirkan generasi-generasi selanjutnya. Sudah pasti faktor menerima generasi-generasi selanjutnya ini menyebabkan berbedanya generasi lain itu dibandingkan generasi pertama yang unik yang mempunyai ciri khas tersebut.

Ada fakor ketiga yang perlu diperhatikan. Ketika masuk ke dalam Islam, mereka meninggalkan seluruh masa lalunya di zaman jahiliyah. Pada waktu mereka datang kepada Islam, mereka merasa memulai suatu masa baru, terpisah sama sekali dari kehidupan yang telah dilaluinya di zaman jahiliyah. Mereka menghadapi apa yang telah biasa mereka lakukan di zaman jahiliyah dengan sikap ragu, penuh hati-hati dan ketakutan. Mereka merasa bahwa semuanya ini adalah hal yang kotor dan tidak layak untuk Islam.

Terdapat pemisahan mental total antara masa lalu dan masa setelah mereka memeluk Islam. Timbul isolasi total dalam hubungannya dengan masyarakat jahiliyah di sekelilingnya dan akhirnya mereka berhubungan dengan lingkungan Islaminya, walaupun mereka masih melakukan hubungan dengan beberapa orang musyrik dibdang perdagangan dan pergaulan sehari-hari, tetapi isolasi mental itu amat berbda dengan pergaulan sehari-hari. Sekarang ini kita berada di suatu masa jahiliyah, seperti masa jahiliyah yang terdapat pada permulaan Islam. Banyak dari apa yang kilta kira kebudayaan Islam, sumber Islam, pemikiran Islam pada hakekatnya adalah hasil produksi jahiliyah juga.

Kita harus kembali kebelakang, kembali kepada sumber yang bersih dan murni. Kembali kepada sumber ”generasi unik” telah menimba. Sumber yang telah dijamin tidak kena campuran dan tidak kena kotoran. Kita kembali kepadanya. Daripadanya kita mengambil konsepsi tentang hakikat seluruh yang ada, hakikat adanya manusia. Dari sana kita mengambil konsepsi kita tentang kehidupan, mengambil nilai dan budi pekerti kita, mengambil metode pemerintahan, politik, ekonomi dan semua unsur pokok kehidupan.

Kita harus kembali kepadanya dengan perasaan menerima perintah untuk dilaksanakan dan diamalkan, bukan dengan perasaan untuk belajar dan menikmati. Dalam perjalanan kita akan bertemu dengan keindahan seni dalam Al Qur’an, dengan kisah-kisah hebat dalam Al Qur’an, dengan pemandangan hari kiamat dalam Al Qur’an. Tetapi kita bertemu dengan segalanya itu, bukan karena hal itu menjadi tujuan kita. Tujuan utama kita adalah untuk mengetahui: Apakah yang diminta Qur’an dari kita untuk diamalkan? Bagaimanakah Qur’an menginginkan perasaan kita terhadap Allah? Bagaimanakah menurut Qur’an semestinya budi pekerti kita, sistem kita dalam hidup ini?

Kita akan menemui kesukaran dan hambatan. Dari kita diminta pengorbanan yang besar. Tetapi kita tidak memiliki pilihan lain, kalau kita benar-benar ingin menempuh jalan generasi pertama yang telah ditetapkan Allah swt untuk menegakkan metode Ilahi, dan ditolongNya dalam menghadapi metode jahili.

Dikutip dari: Ma’alim Fit Tarieq -- Sayid Qutb

(http://www.arrantisi.co.cc/2009/07/generasi-qurani-yang-unik_15.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ayo bersedekah setiap hari

“Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat.

Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”,

sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)”

(HR Bukhary 5/270)

Lihat catatan keuangan anda/keuangan perusahaan anda !
Apakah pengeluaran lebih besar dari pemasukan? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang pailit.
Apakah pengeluaran dan pemasukan seimbang? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang rugi.
Apakah pemasukan lebih besar dari pengeluaran? Jika Ya, berarti anda termasuk orang yang beruntung.
Hari ini mesti lebih baik dari ari kemarin dan hari esok meski lebih baik dari hari ini.

Perbanyak infaq anda jika anda mengalami kerugian, jangan berhenti berinfaq ketika anda meraih keuntungan yang banyak. Justeru semakin banyak untung, akan semakin keranjingan berinfaq.

Ayo salurkan sebagian rezeki anda kepada orang-orang yang ada di sekitar anda, atau juga bisa melalui program yang kami tawarkan berikut ini :

1. Zakat
2. Infaq/shadaqah
3. Wakaf
4. Anak Yatim
5. Buka Puasa

Salurkan sebagian rezeki anda melalui salah satu nomor rekening berikut :
--> Bank BRI Syariah No Rek. 1041682996
--> Bank Muamalat No Rek. 3560009874
--> Bank Mandiri No Rek. 114-00-0594415-5
--> Bank BCA No Rek. 8110330589
Semua atas nama Wagimin.

Mohon konfirmasinya seberapapun harta yang anda infaqkan

Bila sudah ditransfer mohon konfirmasi via WA ke nomor 082354458007 caranya :


1. Zakat
Ketik : ZAKAT_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : ZAKAT 01012011 Hamba Allah di Surabaya BRI Syariah Rp. 1.000.011,-

2. Infaq/shadaqah
Ketik : INFAQ_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : INFAQ 01012011 Hamba Allah di Surabaya BRI Syariah Rp. 2.000.022,-

3. Waqaf
Ketik : WAQAF_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : INFAQ 01012011 Hamba Allah di Surabaya BRI Syariah Rp. 5.000.000,-

4. Anak Yatim
Ketik : YATIM_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : YATIM 01012011 Hamba Allah di Surabaya BRI Syariah Rp. 3.000.033,-

5. Buka Puasa
Ketik : PUASA_tanggal_nama_Asal_Bank_jumlah
Contoh : YATIM 01012011 Hamba Allah di Surabaya BRI Syariah Rp. 1.000.033,-

Terimakasih atas partisipasinya kepada rekan-rekan yang telah berbagi terutama buat mereka yang belum melakukan konfirmasinya, semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik dan menjadi amalan yang akan memperberat amal kebaikan di yaumil akhir.

Penolong Misterius

Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa.

"Allahu Akbar!" suara lelaki itu mengawali shalatnya.

Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian do'a. Seusai sholat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah.

Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya.

"Rupanya malam sudah larut...,"bisiknya.

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkannya.

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah.

"Alhamdulillah..., harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,"kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya.

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu.

"Hah! Siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?!" seru orang yang mendapat jatah makanan.

"Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakannya untuk kita!" sambut yang lainnya.

Begitu pula malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan.

"Sungguh! Kita terbebas darikesengsaraan dan kelaparan! Karena seorang penolong yang tidak diketahui!" kata orang miskin ketika pagi tiba.

"Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong...," timpal seorang temannya.

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin bertambah keuntungan.

Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimkannya?

Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparn. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya!

"Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak...," orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di rampok. "Ayo cepat! Mana uangnya?!" gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.

"Aku...aku...," Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok. Membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali.

"Siapa kau?!" tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu.

"Ampun, Tuan....jangan siksa saya...saya hanya seorang budak miskin...,"katanya ketakutan.

"Kenapa kau merampokku?" Tanya Ali kemudian.

"Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan," sahutnya dengan wajah pucat.

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus.

"Ampunilah saya, Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat..."

"Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?" kata Ali.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub.

"Sekarang pulanglah!" kata Ali.

Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis.

"Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertobat kepada Allah...saya berjanji tidak akan mengulanginya," kata orang itu penuh sesal.

Ali tersenyum dan mengangguk.

"Hai, orang yang tobat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah maha pengampun." Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertobat atas kesalahannya.

"Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini...," kata Ali sebelum orang itu pergi." Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku," sambung Ali.

Dan orang itu menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.

Suatu ketika Ali Zainal Abidin wafat. Orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang.

Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya.

"Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?"

"Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah," kata orang yang bertobat itu dengan rasa haru.

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan.

Orang yang bertobat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo'a," Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Saw.